News

Dari Kabut Asap ke Solidaritas: Mendukung Perempuan dan Komunitas Terdampak Karhutla

“Air berubah kecokelatan, asap membuat aktivitas semakin sulit, tetapi warga tetap harus bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.”
Dari Kalimantan Tengah, cerita seperti ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya soal api yang membakar hutan. Dampaknya masuk ke rumah, ke tubuh, ke pekerjaan, dan ke kehidupan sehari-hari warga.

Pengalaman itu diceritakan Irene Natalia Lambung dari Solidaritas Perempuan Mamut Menteng, Kalimantan Tengah. Bagi warga di wilayah terdampak, menghindari asap dengan tetap berada di rumah bukan pilihan yang tersedia bagi semua orang. Sebagian tetap harus keluar untuk bekerja, mencari air, membeli kebutuhan, atau memastikan keluarga tetap bertahan di tengah kualitas udara yang memburuk.

Sepanjang Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Di Kalimantan Tengah, ratusan hektare lahan masih menjadi area penanganan karhutla. Kebakaran juga dilaporkan di Nabire dan Raja Ampat di wilayah Papua, sementara di Ambon kabut asap sampai mengganggu aktivitas sekolah, pekerjaan, dan penerbangan. Situasi ini menunjukkan bahwa karhutla bukan persoalan satu daerah, melainkan krisis yang berulang di banyak wilayah.

Kemarau memang meningkatkan risiko kebakaran, tetapi api tidak lahir dari cuaca semata. Berbagai kajian menunjukkan bahwa degradasi gambut, pembukaan dan pengelolaan lahan, deforestasi, serta lemahnya pencegahan turut memperbesar risiko. Di lahan gambut yang telah mengering, api bahkan dapat bergerak di bawah permukaan tanah dan menjadi lebih sulit dipadamkan.

Dampaknya juga tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Anak-anak lebih rentan karena paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Perempuan hamil juga menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar. Sementara bagi banyak perempuan, krisis membawa beban berlapis: menjaga anggota keluarga yang sakit, mencari air, memastikan makanan tersedia, menghadapi terganggunya penghasilan, sekaligus tetap menjalankan pekerjaan perawatan sehari-hari.

Sebuah studi tentang kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan memperkirakan paparan PM2.5 dari kebakaran berkaitan dengan puluhan ribu kematian dini dan ratusan ribu episode asma berat pada anak setiap tahun. Angka tersebut bukan jumlah korban karhutla 2026, tetapi menunjukkan bahwa paparan asap bukan sekadar gangguan sementara. Ia membawa konsekuensi kesehatan yang serius.

Pada 17 Oktober 2026, Minanga Peace Fund berbicara langsung dengan dua perempuan dari Kalimantan melalui TikTok Live bertajuk “Kabut Asap, Siapa yang Paling Terdampak?” Mereka adalah Irene Natalia Lambung dari Solidaritas Perempuan Mamut Menteng, Kalimantan Tengah, dan Dede Putri Mufarroha dari Suar Asa Khatulistiwa. Percakapan dipandu oleh Ruby Kholifah.

Dari percakapan itu, karhutla kembali terlihat bukan sebagai angka titik panas atau luas lahan terbakar, melainkan sebagai persoalan kehidupan sehari-hari. Irene berbicara tentang air, kesehatan, pekerjaan, dan kebutuhan keluarga. Dede mengingatkan bahwa kebakaran tidak boleh terus dilihat hanya sebagai bencana alam, karena cara lahan dikelola, kesiapan pencegahan, dan keterlibatan masyarakat ikut menentukan seberapa besar dampaknya.

Cerita mereka juga memperlihatkan sesuatu yang sering luput: perempuan bukan hanya pihak yang terdampak. Mereka mengenali kebutuhan komunitas, mengetahui siapa yang sulit mengakses bantuan, dan ikut menjaga kehidupan tetap berjalan di tengah krisis.

Kita mungkin jauh dari titik kebakaran, tetapi kita tidak harus jauh dari mereka yang terdampak.

Melalui Minanga Peace Fund, dukungan publik dapat membantu memperkuat respons yang dipimpin perempuan dan komunitas lokal—mereka yang berada paling dekat dengan warga, paling cepat melihat kebutuhan, dan tetap bekerja ketika perhatian publik mulai berkurang.

Donasi bukan sekadar bantuan sesaat. Dukungan itu dapat menjadi bagian dari upaya memastikan perempuan, anak, dan komunitas terdampak memiliki ruang yang lebih kuat untuk bertahan, pulih, dan menentukan kebutuhan mereka sendiri.

Mari ikut menopang perempuan dan komunitas yang sedang menghadapi karhutla dari jarak paling dekat. Salurkan dukungan melalui Minanga Peace Fund.

 

Informasi donasi 

Nama penerima: AMAN Indonesia 

Nomor rekening: BSI a.n. AMAN Indonesia
7555556677

 

Category

Artikel

Author

Ega Melindo

Tanggal

21 Oct 2026

Tags
Karhutla Kalimantan Minanga Peace Fund AMAN Indonesia Solidaritas Perempuan Kebakaran Hutan Krisis Iklim Donasi Karhutla Dampak Karhutla pada Perempuan